salaamun lakum

ahlan wasahlan

Minggu, 28 Agustus 2011

falsifies the soul


to all aviq's friends>>>>

 
leaf Ramadan has now gone one by one, blessed also been flowing in our blood stream, God's forgiveness also we have achieved, the gates of hell have been away from our bodies, large victory day has waved his arms outstretched in front of us, but ...... .........
my mistakes and sins are still scattered everywhere, therefore the day was a pure, we are afiq and family so apologizing for all of that on purpose or not .......
thank you all ... a drop of forgiveness can erase all my sins .... aamiin .....
minal aizin wal faizin apologize and unseen ......

Sabtu, 20 Agustus 2011

Anggota FOKUS (Forum Komunikasi Pon-Pes Se Surakarta) 2011/2012 from Ta'mirul Islam



    1.     Nama    = Afiq Fikri Almas ( Boyolali )
Ttl           = Boyolali, 21 Januari 1994
Kesan    = No union without FOKUS “n” no relationship without FOKUS
J          2.     Nama    = Irvan Prasetyo ( Solo Baru )
Ttl           = Sukabumi, 28 Juli 1993
Kesan    = Dengan FOKUS tali silaturahmi antar ponpes se-Surakarta menjadi lebih erat
J          3.     Nama    = Affan Nursyim ( Klaten )
Ttl           = Klaten, 03 November 1994
Kesan    = Dengan FOKUS kita akan menyapa dan mamimpin dunia
J          4.     Nama    = Imam Arifin ( Sukoharjo )
Ttl           = Sukoharjo, 27 Mei 1994
Kesan    = Laa shillata illa bi FOKUS

Kamis, 21 April 2011

yang berhati mulia

To : yang berhati mulia
Assalamu’alaikum yaa qith’atul qolbi
dek…
Pertama …! Aku ucapkan terima kasih yang tak terhingga, sebab … adek telah mengisi lembar kehidupan hatiku. Adek telah rela meluangkan hati dan pikiran serta memberikan kepercayaan kepada hamba-Nya ini. Semoga Allah SWT menganti semua itu dengan yang lebih indah dari padanya.
Kedua … ! mengenal dirimu, aku serasa tidak tahu dan menganggap diriku ada. Tubuhku bergetar menerima ketulusan hati dan kelembutan jiwamu. Aduhai…. Itu adalah barkah dan karunia dari Allah SWT tatkala aku mendapatkan anugerah itu.
dek …
Aku menyayangimu bukan maksudku untuk kua curahkan semua perasaan di hatimu kapadaku. Bahkan bukan maksud hatiku membuatmu terlalu berharap kepadaku. Sungguh benar-benar sungguh aku tidak bermaksud begitu.
Bahwa aku menyayangimu itu semata-mata karena aku ingin mencotoh bagaimana rasa sayang Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis ataupun Nabi Yusuf kepada Zulaikha.
Duhai… zinatul qolbi …
Jika cintamu begitu tulus kepadaku, sungguh aku tak sanggup bermimpi untuk mendapatkan cinta setulus cinta itu. Dan cinta itu merupakan kenyataan yang ada di hatimu, sungguh aku tidak kuat untuk menerima kemuliaan cinta itu. Dari tempat hati itu kau tuangkan anggur cinta dalam cawan milikmu, kau tawari aku untuk meminumnya. Aku takut …. Bila aku di mabukkan karenanya, sehingga akan membuat diriku terlena dan merusak cawan cintamu.
dek …
Pengetahuanku tentang cinta hanya terdiri dari empat kata : “ AKU TIDAK BANYAK MENGETAHUINYA ”. akan tetapi … ijinkan aku untuk mengungkapkan sedikit tentangnya. Yang kutahu, Allah SWT mentakdirkan laki-laki dan perempuan untuk saling mencintai. Bahkan cinta seorang laki-laki dan perempuan ini merupakan dasar bagi kehidupan. Cinta adalah suci, sebab ia berasal dari yang Maha Suci. Cinta ditanamkan didalam diri setiap makhluk agar dengannya mekhluk menjadi suci.
dek …
Kutekan dalam-dalam keberanianku yang ada pada diriku. Ketika jemariku menuliskan coretan di atas kertas ini untukmu. Kuhancurkan sifat munaku, untuk mengirimkan curahanku untukmu. Tetapi … hasratku tuk menulis coretan ini lebih besar dari pada sifat munaku. Dan keininanku untuk mengungkapkan rahasia jiwaku lebih besar dari segala keberanian dan sifat munaku.
dek …
Melalui coretan ini, aku ingin mengungkapkan semua yang ada pada pikiran, perasaan dan hatiku. Semua yang ada di jiwaku bermula dari awal ketika ku mengenal dirimu hingga kini. Semua telah berkenang di raga dan jiwaku. Tapi dek … bukan itu yang sebenarnya ingin aku ungkapkan, sesungguhnya aku ingin menjadi pendegar yang baik dari curahan hatimu, menjadi tempat beradu untuk memecahkan masalahmu, menjadikan bahuku tempat sandaran semua isak dukamu. Aku hanya ingin menjadi teman bagimu atau malah seorang sahabat yang paling baik dari semua sahabatmu yang ada. Maka aku harap  adek dapat menerima keputusanku yang mungkin berat untukku dan untukmu.
dek …
Maafkan aku sebab aku harus hadir dalam lembaran kisahmu, sebab aku harus mengungkapkan rahasia jiwaku. Mungkin adek akan menilaiku sebagai orang yang mengingkari janji atau malah yang telah mengecewakan adek. Tetapi … dek ! aku kini sadar bahwa masa depanku harus lebih baik dari pada sekarang …
Yach, betapa jahatnya diriku sebab telah melukai cinta adek. Mungkin adek akan semakin menganggapku sebagai orang yang paling jahat dan rendah harganya. Sebab aku telah berani menghancurkan hubungan yang telah aku jalin sendiri. Tetapi … bukan maksud diriku menghancurkan semua, akan tetapi aku masih ingin selalu ada disisi adek setiap waktu dan masih mempererat hubungan tali silaturahmi diantara kita.
Akan tetapi apapun yang akan adek katakan tentang aku, aku akan menerimanya dengan ikhlas, baik buruknya perkataan adek adalah baik semuanya bagiku. Jika adek masih tidak sanggup menerima keputusan ini, aku mohon dengan sangat … adek berusaha untuk menerimanya dan aku memohon beribu maaf atasnya.
Ya Allah …
Ya Rabbii …
Di kerajaan langit mungkin namaku telah engkau tulis diantara nama-nama hamba-Mu yang melakukan dosa dan kesalahan atas ini. Begitu rendah kedudukanku di hadapan-Mu.
Tetapi ya Allah masih bolehkah aku berharap agar engkau membukakan pintu maaf adekku ini sehingga dia mau menerima keputusanku ini dan memaafkan aku. Engkau adalah dzat yang Maha Mengkabulkan. Hanya kepada-Mulah aku memohon pertolongan. Tolonglah hamba-Mu ini ya Allah… berikan cahaya kepada adekku, sehingga dia dapat tetap tabah dan kuat.
dek …
Aku harap adek bisa paham akan keputusanku ini. Dan aku berharap semua yang telah ku berikan untuk adek dapat menjadi tanda persahabatan yang abadi selama-lamanya …
Pesanku yang terakhir, tingkatkan prestasimu … karna aku ingin melihat adek menjadi orang yang lebih baik lagi dari sekarang. And also, aku minta doa dari adek agar aku dan adek bisa mendapatkan apa yang aku dan adek cita-citakan ….    
Aamiin … ya rabbal aalamiin ….  

Rabu, 06 April 2011

PEMBUNUH

PEMBUNUH
Oleh : Afiq Fikri Almas



Pembunuh ……
Kaulah pembunuh…
Kau musnahkan semua nyawa
Setiap nyawa yang menghadangmu
Kau tak punya belas kasihan
Kaupun tak punya ampun

Dasar kau pembunuh
Kau tak pernah memilih siapa
Dan apa yang akan kau bunuh

Kau bunuh ayahku
Kau renggut ibundaku
Kau rampas kenanganku
Kau hampir memupuskan masa depanku
Kau mengambil paksa semua
Semua yang kumiliki
Semuanya……


Tapi …….
Kini ku disisi rumput yang bergoyang
Yang menyadarkan diriku
Dari kegelapan hatiku atas dirimu
Bahwa dirimu bukan pembunuh
Yang membuatku duka

Kau hanya salah satu ciptaan-Nya
Yang Dia menyuruhmu
Untuk memperingatkan akan dosa-dosaku
Dan semua anak Adam dan Hawa
Kau hanya ingin memberi taukan kami
Semisal kecil dari peringatan-Nya

Akupun mengerti
Kau dapat menjadi teman bagiku
Untuk setiap malamku bersujud pada-Nya
Terima kasih Ya Rabbii
Kau menyayangiku
Lewat musibah-musibah dari-Mu





Kamis, 03 Februari 2011

Kenapa ?
Fakka fakra


Bruakkk ….!!!
Suatu benda berwarna biru dengan garis putih di ujungnya, melayang membentur almari coklat tua yang tak bersalah itu. Gelas plastik tua yang diberikan temannya, telah menjadi bahan pelampiasan hatinya yang telah tertindih oleh batu.
“Mana …???”
“Dimana Tuhan …???”
“Dimana …???”
“Aku nggak percaya … kalau Tuhan itu ada …” disambarnya botol aqua yang mampu menampung 1,5 lt air itu. Dia jadikan bahan pelampiasan kedua amarah hatinya.
“Aku nggak percaya lagi …, aku nggak percaya …”
Di malam gelap pekat dengan suara yang tidak bergema, dia terus marah, mengamuk. Semua benda yang berada di dekatnya terus dia sambar tuk jadikan bahan pelampiasannya. Dia tidak peduli entah akan melayang kemana benda-benda yang hanya diam membisu tanpa bisa melontarkan protes  sedikitpun.
Kini kamar yang berukuran 7 x 7 meter itu hanya diselimuti jeritan-jeritan menusuk jiwa. Dia terus menjerit, memberontak, dan melampiaskan amarah dalam jiwanya. Orang-orang yang berada di sekelilingnya hanya dapat melihat dengan iba kejadian itu. Karena mereka takut dan tidak mampu untuk meredakan amarahnya.
Praaaang …!!!
Sebuah piring kaca berwarna putih dengan corak-corak bunga  mawar merah di tepinya pecah berkeping-keping berhamburan di lantai keramik berwarna hijau muda.
“Aku benci hidup ...”
“Aku benci …”
Amarahnya kini semakin menjadi-jadi, ditembusnya kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan dirinya. Dia keluar melalui pintu kamar yang berada di ujung selatan. Dia berlari menuruni tangga sambil terus menjerit-jerit bagai orang yang sudah tak berakal lagi. Dia terus berlari tanpa mempedulikan orang-orang yang mengikuti langkah kakinya. Hingga tubuhnya menghilang di telan kegelapan malam, setelah melewati pintu gerbang tua berwarna hijau tua yang terbuat dari kayu jati, dengan ukiran-ukiran yang masih asli karta tangan orang-orang terdahulu.
*          *          *
Senja telah menoreh di ufuk barat. Kegelapan malam merenggut paksa keelokan senja. Warna oranye mulai memudarkan diri diiringi warna hitam kebiru-biruan. Orang-orang mulai berbondong – bondong menuju surga dunia mereka masing – masing. Hewan – hewan terpaksa kembali ke tempat persemayaman mereka.
Seorang ibu muda berpakaian serba putih, diikuti kerudung putih yang tampak serasai dengan warna kulitnya, memasuki ruangan yang bertuliskan apik di atas pintunya “GHURFATUDH DHIYAAFAH”. Tidak lama kemudian, datang seorang bocah yang masih berumur 15 tahunan dengan mengenakan baju muslim biru muda yang nampak serasi dengan sarung biru tua yang dia kenakan. Tidak lupa peci putihpun selalu bersarang di atas kepalanya.
“Nak !!! Apa kamu sudah krasan disini ?”
Wach …!!! Sudah buk, malahan saya nggak mau pindah.”
“Tapi nak …” ibu itu menghentikan ucapannya.
“Tapi apa buk ???” tanyanya penasaran
“Terpaksa kamu harus pindah dari sini.”
“Tapi kenapa …???” tanya bocah itu sedikit meninggikan suaranya.
“Ibu terpaksa memindahkanmu, karena orang yang membiayaimu juga akan pindah dari kota ini.” Jawab ibu itu dengan mata yang  mulai  berkaca – kaca.
“Apa ibu nggak bisa membiayai sekolahku ?”
“Ibu nggak bisa, ibumu ini hanya seorang tukang cuci, uang hasilnya itu hanya cukup untuk makan ibu sehari-hari, Nak …!!! Kamu itu satu-satunya bintang ibu yang bersinar. Kamu adalah harapan ibu. Ibu ingin melihat kamu sukses nak” Terang ibu itu panjang lebar dengan air mata yang mulai menetes di pipi lembutnya.
“Trus, dimana Bapak ? Dimana buk ? Dimana ?” tanya anak itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibunya.
“Sssttt ….!!! Diam nak !!! Jangan pernah kau sebut-sebut lagi bapakmu ! Ibu sudah tidak ingin mendengarnya lagi. Ibumu ini hanya istri ke delapan belasnya yang tidak terurus,” Gertak ibu itu dengan meningkupkan telapak tangan kanannya tepat di mulut bocah itu.
“Tapi buk, …” ujar bocah itu sambil berusaha melepaskan sekapan tangan ibuny dimulut mungilnya.
“Sudahlah nak …!!!” ikhlaskan saja, Insya Allah semua ini pasti ada hikmahnya. Hanya satu harapan ibu dari kamu. Ibu hanya ingin kau buatkan untukku masjid 6 menara.”
*          *          *
Hech ….!!! Sudah, sudah kalian ini berantem terus kerjaannya.” Lerai orang yang bertubuh jangkung itu kepada kedua anak yang sedang sibuk dalam perkelahian mereka.
“Dia duluan akh.” Diikuti jari telunjuknya yang tanpa berdosa mengarah pada lawan perkelahian yang berada di depannya.
“Bukan aku akh, tapi dia,” sangga anak yang lain tidak mau kalah.
“Ya sudah ! sekarang kalian berdua ikut aku ke kantor pengasuhan. Kalian bisa berdebat sepuasnya disana. Ayo ! Cepat !!!”
Laki-laki yang mempunyai tubuh jangkung, yang selalu menenakkan kaos oblong ukuran tanggung hingga memperlihatkan postur tubuhnya yang ideal. Tatapan mata yang tajam yang dilengkapi potongan rambutnya yang selalu dipotong seperti komandan tentara, menambah penampilannya hingga terlihat  sangar dan maco. Laki-laki yang tidak lain adalah bagian keamanan itu membawa kedua anak yang terlibat dalam perkelahian ke kantor pengasuhan.
“Bid …!! Kamu membuat masalah lagi ?” tanya laki-laki yang baru keluar dari dalam kantor pengasuhan.
“Bukan saya yang mulai tad, tapi dia.”
“Bukan tad, dia duluan.”
“Sudah, sudah !!! Sekarang kamu Ilham apa yang terjadi sebenarnya ?” tanya laki-laki berkumis dan berjenggot tipis kepada salah satu dari kedua anak itu.
“Begini tad, awalnya tadi dia ngejek saya, otomatis saya tidak terima, ya …. sudah saya pukul saja dia, eh dianya juga mbalas mukul saya.” Terang Ilham santai, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
“Benar begitu Bid ?” tanya Ustadz yang mempunyai paras killer itu.
“I … I … iya, tad.”
“Hmm …, berarti ini untuk kesekian kalinya kamu membuat masalah. Baik …!!! Sekarang Ilham dan kamu Haikal bisa kembali ke kamar kalian masing-masing. Oh ya … Kal !!! Kerjamu sebagai keamanan sudah bertambah baik. Tapi lebih baik tingkatkan lagi !”
Na’am ustadz !!! Sami’tu wa atho’tu.”
Kini ustadz yang tidak lain bernama Ust. Danu itu hanya berdua dengan anak yang bermasalah tadi di dalam kantor pengasuhan.
“Bid, kamu sadarkan atas apa yang kamu lakukan selama ini ? Kamu itu sudah sering membuat pelanggaran. Dulu kamu sering banget sakit-sakitan, satu bulan yang lalu kamu sering mbolos dari Madrasah, baru saja kemarin kamu memecahkan kaligrafi di masjid, eh … sekarang sudah menambah satu masalah lagi. Ada apa sech kamu ? apa kamu punya masalah ?”
“Ti … dak, tad. Ti … dak ada.” Jawabnya gugup.
“Kalau ustadz perhatikan sejak kami pindah ke sini, awalnya kamu baik-baik saja, malahan kamu sering ikut ekschool dan rajin ke Madrasah. Kamu juga taat dengan peraturan-peraturan di pondok. Tapi … kenapa kamu sekarang begitu beda 180o ? Ceritakan sama ustadz kalau kamu ada masalah ! Jangan disimpan sendiri!!”
“Tidak, tad. Saya tidak ada masalah apapun, benar tad.” Jawabnya sudah agak tenang.
“Baiklah kalau begitu, sekarang agar kamu tidak mengulangi perbuatanmu lagi, kamu ustadz hukum membersihkan WC 5 hari.”
“5 hari tad ?”
“Iya kenapa ??? Keberatan ???”
“Tidak tad.”
*          *          *
Malam ….
Indah ditemani sang bulan. Cantik diiringi serpihan bintang. Manis diayuni udara yang menusuk sampai ke pori-pori jiwa. Merdu dihayuti suara hewan malam. Tapi …!!! Semua itu bagaikan sirna hilang, lenyap ditelan kejadian pahit di malam yang kelam itu.
Tok … tok … tok ….
“Assalamu’alaikum tad !!!”
“Assalamu’alaikum …!” Haikal mengulangi salamnya karna takut orang yang berada di dalam kamar tidak keluar.
“Wa’alaikum salam …! Ada apa tho ? Kamu ini mbangunkan ustadz malam-malam begini ??”
“Gawat tad !!! Gawat !!!” Jawab laki-laki yang masih berumur delapan belasan tahun itu dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Gawat kenapa ?” tanya Ust. Danu penasaran
“Aa … a … bid, tad. Aa … bid ka … ka … bur lagi dari pon … dok lewat ger … ger … bang utama. Tap … po sebelumnya dia sempat marah-ma … rah menyalahkan Tuhan dan meng … mengamuk di kamar. Semua barang-barang dia rusak. Semua dilempar olehnya. Saya dan teman-teman sendiri tidak sanggup menenangkannya.” Jawab Haikal sedikit terbata-bata.
“Ap … pa …!!! Abid kabur lagi … ada apa sech sebetulnya dengan anak itu ?!!”
“Saya juga nggak tau, tad. Sepertinya dia punya masalah besar.”
“Ya sudah …!!! Nanti kamu coba tanya empat mata dengannya. Coba kamu tanya baik-baik problemnya. Masalanya kemaren waktu aku sendiri yang tanya, dia tidak mau njawab.”
“Ya tad, … Insya Allah.”
“Oh ya … sekarang kamu ikut ustadz, kita cari Abid bersama-sama.”
Na’am tad.
*          *          *
Anak itu kini mengasingkan dirinya di salah satu sudut kamarnya. Dia terduduk dengan mata yang masih mengucurkan air mata kepedihan jiwa. Tangannya masih menggigil melingkar memeluk kedua lututnya. Rambutnya acak-acakan menandakan dirinya sudah tidak mandi beberapa hari. Pakaian yang sudah kecoklat-coklatan tidak lepas dari dirinya.
Sepi, yach kata itulah yang tepat untuk menggambarkan keadaan kamar yang dia tempati sekarang. Hanya isah tangisnyalah yang menghiasi tempat itu. Suara gaduh kicauan teman-temannya yang setiap hari menyelimuti kamar itu, kini tidak menampakkan wujudnya. Karena kesibukan di kelas sedang bergelut dengan mereka.
Kreeeck …!!!
Pintu kamar yang bercat hijau tua itu dibuka oleh laki-laki yang tidak lain adalah pengurus yang paling ditakuti anggota.
“Bid, kamu masih disitu ?”
Akan tetapi tidak ada satupun jawaban dari kamar itu. Hanya senduhan tangis yang sangat miris terdengar di telinganya.
“Bid, apa kamu punya masalah ?” tanya Haikal pelan sambil mendekati sesosok anak laki-laki yang meringkukkan dirinya di salah satu sudut kamar.
Tetap saja tidak ada jawaban apapun dari sosok itu.
“Apa kamu tidak krasan disini ? Cerita donk sama Akh, Insya Allah Akh bantu semampu apa yang Akh bisa. Akh janji, Akh akan merahasiakan hal ini.”
Tetapi tetap saja anak itu tidak mau mengangkat suara, hanya isak tangisnya yang terdengar paruh.
“Manusia itu tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendirian, pasti dia butuh akan seseorang untuk menampung ceritanya serta membantu memecahkan masalahnya. Seperti halnya kamu Bid, kamu nggak akan bisa memendam masalahnya di dalam hati, mesti hatimu memaksamu untuk mengeluarkan curahannya. Maka dari itu manfaat Akh disini sebagai pengurus untuk menampung keluh kesah dari anggota-anggotanya. Kamu coba cerita donk sama Akh apa masalahmu.”
“Tapi Akh janji yach nggak akan bilang-bilang ke yang lain.” Jawab Abid dengan suara yang masih tersedu-sedu. Akhirnya Abid mulai mau untuk mengangkat suara.
Yach, Akh janji.”
“Dulu sebelum masuk pondok ini, aku juga sempat mondok di kota asalku. Tapi kemudian disebabkan karena orang yang membiayai aku akan pindak kota, maka terpaksa aku harus pindah pondok juga.”
“Orang yang membiayai kamu ? Memang bukan orang tuamu ?”
“Bukan Akh, tapi orang lain, aku juga tidak tahu namanya. Bahkan aku belum tau wajahnya seperti apa. Sudah Akh nggak usah mbahas itu lagi, aku sudah bosan membahas masalah itu. Em … ketika aku mondok di pondokku dulu berbeda jauh dengan disini. Disana orangnya baik-baik sama aku. Mereka selalu perhatian sama aku, walaupun aku dari kalangan orang yang tidak mampu, tetapi disini beda … beda banget, aku sering diejekin disini. Mereka selalu membeda-bedakan teman. Aku benci Akh … aku benci …”
Yach, Akh ngerti, tapi … kenapa kemaren kamu mengamuk menyalahkan Allah ??”
“Karna aku juga benci sama Allah. Aku … benci … “ Jawab Abid dengan suara yang mulai meninggi.
“Astaghfirullahal ‘adhim …!!! Kenapa kamu benci sama Allah ?”
“Karena Allah selalu tidak adil dengan aku. Kenapa selalu aku yang tidak bisa ? Kenapa selalu aku yang lemah ? Kenapa tidak yang lain saja ?” Jawab Abid dengan air mata yang mulai mengucur deras membasahi pipinya.
“Maksudmu ?” tanya Haikal bingung.
“Kenapa mereka yang menghina aku selalu yang menjadi juara ? Kenapa mereka yang selalu terpilih ? Kenapa mereka yang selalu menang ? Kenapa ? Padahal aku sudah berusaha, aku sudah berusaha Akh, sudah … aku sudah bekerja keras, sudah aku tumpahkan semua kemampuanku. Tapi aku … aku … selalu tidak bisa Akh, tidak bisa … aku ingin … sekali membahagiakan ibuku. Ibuku selalu sakit-sakitan di rumah, dulu selalu disiksa ayahku sebelum ayahku pergi meninggalkan kami. Sedangkan pekerjaan ibuku hanya sebagai tukang cuci. Ayahku … sudah tidak aku anggap lagi sebagai ayahku, tidak lagi. Karena dia menelantarkan kami berdua. Aku ingin … sekali membahagiakan ibuku, ingin sekali … tapi aku selalu tidak bisa Akh, tidak bisa.”
“Begini, Bid ! Kamu tidak boleh menyalahkan siapapun, apalagi Allah. Karena setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Dan semua itu adalah nikmat dari-Nya. Kamu tidak boleh mengkufurinya, karena “La in syakartum la aziidannakum wa la in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid.” Apa kamu mau di azab oleh Allah ? Nggak maukan. Makanya jangan kau kufuri itu semua.”
Abidpun terdiam tanpa kata-kata untuk beberapa menit. Dia mengulangi lagi dalam memori otaknya apa yang barusan dikatakan oleh kakak pengurusnya itu. Dia mencoba mengoreksi apa yang salah dalam dirinya dan apa yang benar dari perkataan kakak kelasnya itu. Abidpun terhentak ada secercah cahaya dalam hatinya yang kini menghinggapi otaknya. Hingga akhirnya dia mau membuka mulutnya.
Iyach Akh aku sadar, aku mau bertobat kepada Allah dan berubah.” Ujar Abid sedikit menundukkan kepalanya.
“Trus … kalo kamu ingin membahagiakan ibumu, kamu bisa kok melakukan itu. Siapa bilang kamu tidak bisa. Mungkin kamu sekarang hanya belum bisa saja, tapi kita lihat besok atau lusa, kamu akan jadi orang pertama yang membangun menara tertinggi di dunia. Akh yakin itu, asalkan kamu mau berusaha dan tidak mudah putus asa. Man jadda wajada.”
“Iya Akh … aku akan terus berusaha dan tidak mudah putus asa. Sukron Akh motivasinya. Aku berjanji akan mewujudkan cita-cita ibuku untuk membuatkannya masjid 6 menara.” Ucap Abid dengan semangat tinggi bagaikan  Bung Tomo dalam memimpin perang melawan Belanda. Kini airmyanya telah berhenti mengalir di sela belai semangatnya.
“Masjid 6 menara ?”
“Iya Akh, itulah cita-cita ibuku yang harus aku wujudkan.” Jawab Abid dengan senyum lebar yang melekat di wajahnya.
*          *          *
Selamat datang pagi ….
Apa kabarmu hari ini …
Pagi bersinar cerah secerah senyuman anak itu dalam menggapai rona surga impiannya. Seindah hatinya yang sedang  melayang hingga ke langit tujuh.
“Bid … Abid … bid … kamu tau nggak Akh mbawa apa pagi ini buat kamu ?” Tanya Haikal dengan raut wajah seperti menyembunyikan sesuatu.
Nggak Akh. Emang apaan tho Akh ? Jangan buat aku penasaran donk!” tanya Abid gemas.
“Tadi pagi-pagi sekali, setelah shalat subuh ada laki-laki tua yang menitipkan surat buat kamu. Setelah Akh baca isinya ternyata di dalam itu ada pasport dan piagam beasiswa sekolah di Amerika. Dan disini juga tertulis atas nama Muhammad Abid Habibullah. Itukan nama kamu.”
“Ke Amerika Akh ?”
“Iya … ke Amerika.”
“Itu semua buat aku Akh ?”
“Iya … semua itu buat kamu.”
Wa in ta’udduu ni’matallahi laa tuhshuuhaa.”
Bersambung……..

*          *