salaamun lakum

ahlan wasahlan

Kamis, 03 Februari 2011

Kenapa ?
Fakka fakra


Bruakkk ….!!!
Suatu benda berwarna biru dengan garis putih di ujungnya, melayang membentur almari coklat tua yang tak bersalah itu. Gelas plastik tua yang diberikan temannya, telah menjadi bahan pelampiasan hatinya yang telah tertindih oleh batu.
“Mana …???”
“Dimana Tuhan …???”
“Dimana …???”
“Aku nggak percaya … kalau Tuhan itu ada …” disambarnya botol aqua yang mampu menampung 1,5 lt air itu. Dia jadikan bahan pelampiasan kedua amarah hatinya.
“Aku nggak percaya lagi …, aku nggak percaya …”
Di malam gelap pekat dengan suara yang tidak bergema, dia terus marah, mengamuk. Semua benda yang berada di dekatnya terus dia sambar tuk jadikan bahan pelampiasannya. Dia tidak peduli entah akan melayang kemana benda-benda yang hanya diam membisu tanpa bisa melontarkan protes  sedikitpun.
Kini kamar yang berukuran 7 x 7 meter itu hanya diselimuti jeritan-jeritan menusuk jiwa. Dia terus menjerit, memberontak, dan melampiaskan amarah dalam jiwanya. Orang-orang yang berada di sekelilingnya hanya dapat melihat dengan iba kejadian itu. Karena mereka takut dan tidak mampu untuk meredakan amarahnya.
Praaaang …!!!
Sebuah piring kaca berwarna putih dengan corak-corak bunga  mawar merah di tepinya pecah berkeping-keping berhamburan di lantai keramik berwarna hijau muda.
“Aku benci hidup ...”
“Aku benci …”
Amarahnya kini semakin menjadi-jadi, ditembusnya kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan dirinya. Dia keluar melalui pintu kamar yang berada di ujung selatan. Dia berlari menuruni tangga sambil terus menjerit-jerit bagai orang yang sudah tak berakal lagi. Dia terus berlari tanpa mempedulikan orang-orang yang mengikuti langkah kakinya. Hingga tubuhnya menghilang di telan kegelapan malam, setelah melewati pintu gerbang tua berwarna hijau tua yang terbuat dari kayu jati, dengan ukiran-ukiran yang masih asli karta tangan orang-orang terdahulu.
*          *          *
Senja telah menoreh di ufuk barat. Kegelapan malam merenggut paksa keelokan senja. Warna oranye mulai memudarkan diri diiringi warna hitam kebiru-biruan. Orang-orang mulai berbondong – bondong menuju surga dunia mereka masing – masing. Hewan – hewan terpaksa kembali ke tempat persemayaman mereka.
Seorang ibu muda berpakaian serba putih, diikuti kerudung putih yang tampak serasai dengan warna kulitnya, memasuki ruangan yang bertuliskan apik di atas pintunya “GHURFATUDH DHIYAAFAH”. Tidak lama kemudian, datang seorang bocah yang masih berumur 15 tahunan dengan mengenakan baju muslim biru muda yang nampak serasi dengan sarung biru tua yang dia kenakan. Tidak lupa peci putihpun selalu bersarang di atas kepalanya.
“Nak !!! Apa kamu sudah krasan disini ?”
Wach …!!! Sudah buk, malahan saya nggak mau pindah.”
“Tapi nak …” ibu itu menghentikan ucapannya.
“Tapi apa buk ???” tanyanya penasaran
“Terpaksa kamu harus pindah dari sini.”
“Tapi kenapa …???” tanya bocah itu sedikit meninggikan suaranya.
“Ibu terpaksa memindahkanmu, karena orang yang membiayaimu juga akan pindah dari kota ini.” Jawab ibu itu dengan mata yang  mulai  berkaca – kaca.
“Apa ibu nggak bisa membiayai sekolahku ?”
“Ibu nggak bisa, ibumu ini hanya seorang tukang cuci, uang hasilnya itu hanya cukup untuk makan ibu sehari-hari, Nak …!!! Kamu itu satu-satunya bintang ibu yang bersinar. Kamu adalah harapan ibu. Ibu ingin melihat kamu sukses nak” Terang ibu itu panjang lebar dengan air mata yang mulai menetes di pipi lembutnya.
“Trus, dimana Bapak ? Dimana buk ? Dimana ?” tanya anak itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibunya.
“Sssttt ….!!! Diam nak !!! Jangan pernah kau sebut-sebut lagi bapakmu ! Ibu sudah tidak ingin mendengarnya lagi. Ibumu ini hanya istri ke delapan belasnya yang tidak terurus,” Gertak ibu itu dengan meningkupkan telapak tangan kanannya tepat di mulut bocah itu.
“Tapi buk, …” ujar bocah itu sambil berusaha melepaskan sekapan tangan ibuny dimulut mungilnya.
“Sudahlah nak …!!!” ikhlaskan saja, Insya Allah semua ini pasti ada hikmahnya. Hanya satu harapan ibu dari kamu. Ibu hanya ingin kau buatkan untukku masjid 6 menara.”
*          *          *
Hech ….!!! Sudah, sudah kalian ini berantem terus kerjaannya.” Lerai orang yang bertubuh jangkung itu kepada kedua anak yang sedang sibuk dalam perkelahian mereka.
“Dia duluan akh.” Diikuti jari telunjuknya yang tanpa berdosa mengarah pada lawan perkelahian yang berada di depannya.
“Bukan aku akh, tapi dia,” sangga anak yang lain tidak mau kalah.
“Ya sudah ! sekarang kalian berdua ikut aku ke kantor pengasuhan. Kalian bisa berdebat sepuasnya disana. Ayo ! Cepat !!!”
Laki-laki yang mempunyai tubuh jangkung, yang selalu menenakkan kaos oblong ukuran tanggung hingga memperlihatkan postur tubuhnya yang ideal. Tatapan mata yang tajam yang dilengkapi potongan rambutnya yang selalu dipotong seperti komandan tentara, menambah penampilannya hingga terlihat  sangar dan maco. Laki-laki yang tidak lain adalah bagian keamanan itu membawa kedua anak yang terlibat dalam perkelahian ke kantor pengasuhan.
“Bid …!! Kamu membuat masalah lagi ?” tanya laki-laki yang baru keluar dari dalam kantor pengasuhan.
“Bukan saya yang mulai tad, tapi dia.”
“Bukan tad, dia duluan.”
“Sudah, sudah !!! Sekarang kamu Ilham apa yang terjadi sebenarnya ?” tanya laki-laki berkumis dan berjenggot tipis kepada salah satu dari kedua anak itu.
“Begini tad, awalnya tadi dia ngejek saya, otomatis saya tidak terima, ya …. sudah saya pukul saja dia, eh dianya juga mbalas mukul saya.” Terang Ilham santai, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
“Benar begitu Bid ?” tanya Ustadz yang mempunyai paras killer itu.
“I … I … iya, tad.”
“Hmm …, berarti ini untuk kesekian kalinya kamu membuat masalah. Baik …!!! Sekarang Ilham dan kamu Haikal bisa kembali ke kamar kalian masing-masing. Oh ya … Kal !!! Kerjamu sebagai keamanan sudah bertambah baik. Tapi lebih baik tingkatkan lagi !”
Na’am ustadz !!! Sami’tu wa atho’tu.”
Kini ustadz yang tidak lain bernama Ust. Danu itu hanya berdua dengan anak yang bermasalah tadi di dalam kantor pengasuhan.
“Bid, kamu sadarkan atas apa yang kamu lakukan selama ini ? Kamu itu sudah sering membuat pelanggaran. Dulu kamu sering banget sakit-sakitan, satu bulan yang lalu kamu sering mbolos dari Madrasah, baru saja kemarin kamu memecahkan kaligrafi di masjid, eh … sekarang sudah menambah satu masalah lagi. Ada apa sech kamu ? apa kamu punya masalah ?”
“Ti … dak, tad. Ti … dak ada.” Jawabnya gugup.
“Kalau ustadz perhatikan sejak kami pindah ke sini, awalnya kamu baik-baik saja, malahan kamu sering ikut ekschool dan rajin ke Madrasah. Kamu juga taat dengan peraturan-peraturan di pondok. Tapi … kenapa kamu sekarang begitu beda 180o ? Ceritakan sama ustadz kalau kamu ada masalah ! Jangan disimpan sendiri!!”
“Tidak, tad. Saya tidak ada masalah apapun, benar tad.” Jawabnya sudah agak tenang.
“Baiklah kalau begitu, sekarang agar kamu tidak mengulangi perbuatanmu lagi, kamu ustadz hukum membersihkan WC 5 hari.”
“5 hari tad ?”
“Iya kenapa ??? Keberatan ???”
“Tidak tad.”
*          *          *
Malam ….
Indah ditemani sang bulan. Cantik diiringi serpihan bintang. Manis diayuni udara yang menusuk sampai ke pori-pori jiwa. Merdu dihayuti suara hewan malam. Tapi …!!! Semua itu bagaikan sirna hilang, lenyap ditelan kejadian pahit di malam yang kelam itu.
Tok … tok … tok ….
“Assalamu’alaikum tad !!!”
“Assalamu’alaikum …!” Haikal mengulangi salamnya karna takut orang yang berada di dalam kamar tidak keluar.
“Wa’alaikum salam …! Ada apa tho ? Kamu ini mbangunkan ustadz malam-malam begini ??”
“Gawat tad !!! Gawat !!!” Jawab laki-laki yang masih berumur delapan belasan tahun itu dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Gawat kenapa ?” tanya Ust. Danu penasaran
“Aa … a … bid, tad. Aa … bid ka … ka … bur lagi dari pon … dok lewat ger … ger … bang utama. Tap … po sebelumnya dia sempat marah-ma … rah menyalahkan Tuhan dan meng … mengamuk di kamar. Semua barang-barang dia rusak. Semua dilempar olehnya. Saya dan teman-teman sendiri tidak sanggup menenangkannya.” Jawab Haikal sedikit terbata-bata.
“Ap … pa …!!! Abid kabur lagi … ada apa sech sebetulnya dengan anak itu ?!!”
“Saya juga nggak tau, tad. Sepertinya dia punya masalah besar.”
“Ya sudah …!!! Nanti kamu coba tanya empat mata dengannya. Coba kamu tanya baik-baik problemnya. Masalanya kemaren waktu aku sendiri yang tanya, dia tidak mau njawab.”
“Ya tad, … Insya Allah.”
“Oh ya … sekarang kamu ikut ustadz, kita cari Abid bersama-sama.”
Na’am tad.
*          *          *
Anak itu kini mengasingkan dirinya di salah satu sudut kamarnya. Dia terduduk dengan mata yang masih mengucurkan air mata kepedihan jiwa. Tangannya masih menggigil melingkar memeluk kedua lututnya. Rambutnya acak-acakan menandakan dirinya sudah tidak mandi beberapa hari. Pakaian yang sudah kecoklat-coklatan tidak lepas dari dirinya.
Sepi, yach kata itulah yang tepat untuk menggambarkan keadaan kamar yang dia tempati sekarang. Hanya isah tangisnyalah yang menghiasi tempat itu. Suara gaduh kicauan teman-temannya yang setiap hari menyelimuti kamar itu, kini tidak menampakkan wujudnya. Karena kesibukan di kelas sedang bergelut dengan mereka.
Kreeeck …!!!
Pintu kamar yang bercat hijau tua itu dibuka oleh laki-laki yang tidak lain adalah pengurus yang paling ditakuti anggota.
“Bid, kamu masih disitu ?”
Akan tetapi tidak ada satupun jawaban dari kamar itu. Hanya senduhan tangis yang sangat miris terdengar di telinganya.
“Bid, apa kamu punya masalah ?” tanya Haikal pelan sambil mendekati sesosok anak laki-laki yang meringkukkan dirinya di salah satu sudut kamar.
Tetap saja tidak ada jawaban apapun dari sosok itu.
“Apa kamu tidak krasan disini ? Cerita donk sama Akh, Insya Allah Akh bantu semampu apa yang Akh bisa. Akh janji, Akh akan merahasiakan hal ini.”
Tetapi tetap saja anak itu tidak mau mengangkat suara, hanya isak tangisnya yang terdengar paruh.
“Manusia itu tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendirian, pasti dia butuh akan seseorang untuk menampung ceritanya serta membantu memecahkan masalahnya. Seperti halnya kamu Bid, kamu nggak akan bisa memendam masalahnya di dalam hati, mesti hatimu memaksamu untuk mengeluarkan curahannya. Maka dari itu manfaat Akh disini sebagai pengurus untuk menampung keluh kesah dari anggota-anggotanya. Kamu coba cerita donk sama Akh apa masalahmu.”
“Tapi Akh janji yach nggak akan bilang-bilang ke yang lain.” Jawab Abid dengan suara yang masih tersedu-sedu. Akhirnya Abid mulai mau untuk mengangkat suara.
Yach, Akh janji.”
“Dulu sebelum masuk pondok ini, aku juga sempat mondok di kota asalku. Tapi kemudian disebabkan karena orang yang membiayai aku akan pindak kota, maka terpaksa aku harus pindah pondok juga.”
“Orang yang membiayai kamu ? Memang bukan orang tuamu ?”
“Bukan Akh, tapi orang lain, aku juga tidak tahu namanya. Bahkan aku belum tau wajahnya seperti apa. Sudah Akh nggak usah mbahas itu lagi, aku sudah bosan membahas masalah itu. Em … ketika aku mondok di pondokku dulu berbeda jauh dengan disini. Disana orangnya baik-baik sama aku. Mereka selalu perhatian sama aku, walaupun aku dari kalangan orang yang tidak mampu, tetapi disini beda … beda banget, aku sering diejekin disini. Mereka selalu membeda-bedakan teman. Aku benci Akh … aku benci …”
Yach, Akh ngerti, tapi … kenapa kemaren kamu mengamuk menyalahkan Allah ??”
“Karna aku juga benci sama Allah. Aku … benci … “ Jawab Abid dengan suara yang mulai meninggi.
“Astaghfirullahal ‘adhim …!!! Kenapa kamu benci sama Allah ?”
“Karena Allah selalu tidak adil dengan aku. Kenapa selalu aku yang tidak bisa ? Kenapa selalu aku yang lemah ? Kenapa tidak yang lain saja ?” Jawab Abid dengan air mata yang mulai mengucur deras membasahi pipinya.
“Maksudmu ?” tanya Haikal bingung.
“Kenapa mereka yang menghina aku selalu yang menjadi juara ? Kenapa mereka yang selalu terpilih ? Kenapa mereka yang selalu menang ? Kenapa ? Padahal aku sudah berusaha, aku sudah berusaha Akh, sudah … aku sudah bekerja keras, sudah aku tumpahkan semua kemampuanku. Tapi aku … aku … selalu tidak bisa Akh, tidak bisa … aku ingin … sekali membahagiakan ibuku. Ibuku selalu sakit-sakitan di rumah, dulu selalu disiksa ayahku sebelum ayahku pergi meninggalkan kami. Sedangkan pekerjaan ibuku hanya sebagai tukang cuci. Ayahku … sudah tidak aku anggap lagi sebagai ayahku, tidak lagi. Karena dia menelantarkan kami berdua. Aku ingin … sekali membahagiakan ibuku, ingin sekali … tapi aku selalu tidak bisa Akh, tidak bisa.”
“Begini, Bid ! Kamu tidak boleh menyalahkan siapapun, apalagi Allah. Karena setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Dan semua itu adalah nikmat dari-Nya. Kamu tidak boleh mengkufurinya, karena “La in syakartum la aziidannakum wa la in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid.” Apa kamu mau di azab oleh Allah ? Nggak maukan. Makanya jangan kau kufuri itu semua.”
Abidpun terdiam tanpa kata-kata untuk beberapa menit. Dia mengulangi lagi dalam memori otaknya apa yang barusan dikatakan oleh kakak pengurusnya itu. Dia mencoba mengoreksi apa yang salah dalam dirinya dan apa yang benar dari perkataan kakak kelasnya itu. Abidpun terhentak ada secercah cahaya dalam hatinya yang kini menghinggapi otaknya. Hingga akhirnya dia mau membuka mulutnya.
Iyach Akh aku sadar, aku mau bertobat kepada Allah dan berubah.” Ujar Abid sedikit menundukkan kepalanya.
“Trus … kalo kamu ingin membahagiakan ibumu, kamu bisa kok melakukan itu. Siapa bilang kamu tidak bisa. Mungkin kamu sekarang hanya belum bisa saja, tapi kita lihat besok atau lusa, kamu akan jadi orang pertama yang membangun menara tertinggi di dunia. Akh yakin itu, asalkan kamu mau berusaha dan tidak mudah putus asa. Man jadda wajada.”
“Iya Akh … aku akan terus berusaha dan tidak mudah putus asa. Sukron Akh motivasinya. Aku berjanji akan mewujudkan cita-cita ibuku untuk membuatkannya masjid 6 menara.” Ucap Abid dengan semangat tinggi bagaikan  Bung Tomo dalam memimpin perang melawan Belanda. Kini airmyanya telah berhenti mengalir di sela belai semangatnya.
“Masjid 6 menara ?”
“Iya Akh, itulah cita-cita ibuku yang harus aku wujudkan.” Jawab Abid dengan senyum lebar yang melekat di wajahnya.
*          *          *
Selamat datang pagi ….
Apa kabarmu hari ini …
Pagi bersinar cerah secerah senyuman anak itu dalam menggapai rona surga impiannya. Seindah hatinya yang sedang  melayang hingga ke langit tujuh.
“Bid … Abid … bid … kamu tau nggak Akh mbawa apa pagi ini buat kamu ?” Tanya Haikal dengan raut wajah seperti menyembunyikan sesuatu.
Nggak Akh. Emang apaan tho Akh ? Jangan buat aku penasaran donk!” tanya Abid gemas.
“Tadi pagi-pagi sekali, setelah shalat subuh ada laki-laki tua yang menitipkan surat buat kamu. Setelah Akh baca isinya ternyata di dalam itu ada pasport dan piagam beasiswa sekolah di Amerika. Dan disini juga tertulis atas nama Muhammad Abid Habibullah. Itukan nama kamu.”
“Ke Amerika Akh ?”
“Iya … ke Amerika.”
“Itu semua buat aku Akh ?”
“Iya … semua itu buat kamu.”
Wa in ta’udduu ni’matallahi laa tuhshuuhaa.”
Bersambung……..

*          *         

Sabtu, 15 Januari 2011

Terhapusnya Butiran Ai Suru

Terhapusnya Butiran Ai Suru
Oleh Fakka Fakra

Tengteng.…tengteng….tengteng….
Bel Madrasah telah menampakkan seruannya, menandakan terbenamnya kwajiban para santri untuk bergelut dengan kitab-kitab gundulnya pada hari ini, akan tetapi mereka tetap harus menyiapkan diri untuk hari esok.
Ustadz lulusan ponpres Darul Islam tiga tahun yang lalu itu, melangkahkan kakinya menuju ke kantor asatidz, setelah setengah hari menumpahkan ilmu kepada para santrinya.
Kantor yang hanya berukuran 5 x 7 meter itu, dilihatnya disana papan pengumuman di samping kanan pintu kantor. Tulisan di papan itu membuat kedua bola matanya serentak melirik ke arah papan. “DIHARAPKAN BERKUMPUL DEWAN ASATIDZAH DI KANOR SETELAH JAM PELAJARAN SELESAI.” Seketika itu pula, Ustadz yang sering di panggil dengan nama Ust Raihan itu menempati tempat duduknya selagi menanti waktu kumpul tiba.
Ust. KH Muh Ibrahim selaku pimpinan pondokpun memulai perkumpulan siang itu.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab para asatidz serempak.
“Maaf dewan asatidzah sekalian, sengaja saya kumpulkan disini, untuk memberitahukan tempat-tempat SDR kita pada bulan Ramadhan tahun ini.”
SDR (Syiar Dakwah Ramadhan) adalah salah satu program pondok yang berada di kota wali itu pada bulan Ramadhan. Pondok mengirimkan para Ustadz-Ustadznya ke tempat-tempat tertentu untuk mendakwahkan islam selama 3 minggu.
* * *

Matahari mulai mengintip di ufuk timur. Di pagi hari pertama puasa Ramadhan, setelah selesai membaca Al-Qur’an pada asatidz telah menyiapkan dirinya masing-masing untuk menuju tempat dakwah mereka. Terutama Ust. Raihan, Ustadz yang mempunyai paras tampan dan berkulit putih itu telah mempersiapkan dirinya bersama Ust. Fajar untuk berangkat ke Wonogiri, tempat dakwah mereka, tepatnya di desa milik Rama teman lama mereka sewaktu masih duduk di kelas 6 KMI atau setara dengan 3 SMA.
Sesampainya di rumah Rama, mereka langsung disambut oleh Rama dan keluarganya. Rama sendiri tinggal disana bersama kedua orang tuanya dan adik semata wayangnya Nurmala.
* * *

Di hari pertama mereka melangkahkan kakinya didesa Kiyaran. Mereka langsung menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ditemani oleh Rama dan adiknya Mala untuk menemui kepala sekolah MAN Kiyaran dan Ta’mir-ta’mir masjid setempat. Karena tempat-tempat itulah ladang dakwah mereka tiga minggu ke depan.
“Ma Sukron ya! Sudah menemani kami.” Ujar Ust Raihan.
Laa basa akhii, don’t think so! Itu sudah kewajibanku sebagai tuan rumah, just so so!” jawab Rama dengan gaya bahasa Arab dan Inggrisnya, karena dulu sewaktu masih nyantri diajarkan bahasa Arab dan Inggris.
“By the way, kamu sekarang mengabdi dimana? Tanya Ust Fajar ikut nimbrung.
“Oh, iya! Aku lupa memberi tahun kalian kalo aku sekarang mengabdi di Surakarta selama bulan ramadhan ini, jadi yang akan membimbing kalian disini nanti adikku, nanti kalo ada kesukaran jangan sungkan-sungkan bertanya, iya kan La?” goda Rama sambil menyenggol bahu Mala.
“Eh, iya…….!” Jawab Mala malu-malu.
* * *
Tok…tok…tok…
Suara ketukan pintu yang pelan tetapi agak bertenaga itu sedikit mengagetkan Ust Raiham, dan Ust Fajar di dalam kamar.
“Kak! Ayo cepat sedikit, sudah hampir jam tujuh neh.” Terdengar suara Mala dari balik pintu kamar.
“Yah, sebentar La, tunggu saja di luar!” balas Ust Raihan sedikit keras karena takut Mala tidak mendengarnya.
Setelah beberapa menit Mala menunggu di luar kamar Ust Raihan dan Ust Fajar akhirnya mereka keluar juga dengan mengenakan hem biru panjang dan dasi putih yang dikalungkan di kerah baju hem mereka.
“Kak! Ini nanti kak Raihan dan kak Fajar memakai kendaraanku untuk pergi ke sekolah, biar nanti aku berangkatnya bersama Aisyah sahabatku.” Terang Mala agak serius.
“Hm…! Terima kasih ya La!” jawab Ust Raihan manis
“He…he…sama-sama kak.” Tutur Mala sedikit menggoda.
Sesampainya di MAN Kiyaran mereka langsung menuju kantor guru untuk menunggu jam pelajaran di mulai. Di MAN inilah kedua Ustadz ini mengajar pesantren kilat selama dua puluh satu hari.
Tet….tet…tet…
Bel masuk telah berbunyi Ust Raihan dan Ust Fajar langsung menuju kelas mereka masing-masing menurut jadwal yang telah diberikan oleh Kepala Sekolah ketika silaturahmi kemaren. Hari ini Ust Raihan mendapatkan jadwal dri jam pelajaran pertama sampai ke empat di kelas XII IPA 1, kebetulan kelas ini adalah kelas milik Mala dan Aisyah. Ketika Ustadz yang masih berumur 21 tahun lebih beberapa bulan ini memasuki kelas, hampir semua mata terkejut melihatnya, mungkin karena parasnya yang tampan dan masih asing di mata meraka.
“Assalamu’alaikum wr. wb!” sambut Ust Raiham untuk mengawali pelajaran.
“Wa’alaikum salam  wr. wb!” jawab para siswa kompak.
“Yah! Sebelum segala sesuatunya, kakak ingin memperkenalkan diri kakak terlebih dahulu, nama kakak Muhammad Raihan Al-Azkari, kakak disini akan mengisi pesantren kilat selama tiga minggu kedepan. Sebenarnya kakak ini sudah menjadi Ustadz di ponpres Darul Islam, di Demak, tapi kalian disini manggil saya kakak saja, jangan Ustandz! kan begini-begini kakak juga masih muda, he…he…!” terang Ust Raiham menggoda siswa-siswanya.
“Huh……!” sorak siswa-siswa serentak, suara kelaspun jadi ramai.
“idih-idih, kakak ini baru kenal sudah ke ge er an!” celetuk salah satu siswi.
“Leh kok ge er tho? Yah, ngak donk…..! ya sudah kalo gitu, malah jadi gaduh neh. Oh iya! Kebetulan di kelas ini ada namanya Nurmala kan? Ada kan? Mana Nurmala? Tanya Ust Raihan sambil celingukan mencari wujudnya Mala.
Ada kak, disini.” Jawab Mala malu, karena tanpa ada komando semua mata yang tadinya mengarah ke Ust Raihan kini telah serentak mengarah kepadanya.
“Nurmala itu adiknya teman kakak sewaktu di pondok, dan sekarang malan kakak bersama kak Fajar menginap dirumahnya, selama mengabdi disini, jadi kalo ada yang ingin tahu lebih dalam tentang kakak tanyakan saja sama Mala! Iya kan La?” ujar Ust Raihan.
“Eh…i…i….iya, iya kak!” jawab Mala gugup dicampur malu, kini pipinya tambah memerah setelah terkena tembakan Ust. Raihan dua kali.
Setelah perkenalan selesai Ust Raihan pun menjelaskan makna dan faedah puasa bulan Ramadhan. Penjelasan yang begitu singkat dan padat itu mudah dipahami oleh para siswa, bahkan mmereka sampai paham betul apa yang disampaikan oleh Ust Raihan.
“Woi…..!!! Ais…..!!! malah melamun, sambil senyum-senyum sendiri lagi.” Hentak Mala mengagetkan.
“Eh…! Ada apa? Hujan? Gempa? Jawab Aisyah kaget.
“Hayo….Nglamunin apa?? Nglamunin Ust Raihan kan? Hayo ngaku? Tanya Mala menggoda.
“Ah, ngak kok, ngak nglamunin siapa-siapa kok. Bener! Suwer! Jawab Asiyah gugup.
“Aduh-aduh Ais, ngaku aja dech, ngak usah malu-malu, sama sahabatmu sendiri?”
“Iya deh aku ngaku, eh La! Ngomong-ngomong Ust Raihan sudah punya pacar belum ya? Semoga belum ya La!”
Mendengar pertanyaan itu sekejap detak jantung Mala berdetak semakin cepat, ada secercah rasa cemburu di hatinya. Mala memang sudah lama memendam rasa suka kepada Ust Raihan. Oleh karena itu dia sering menjenguk kakaknya ke pondok ketika masih nyantri dulu, selain niat Mala menjenguk kakaknya setidaknya dia dapat mengenal Ust Raihan. Dari situlah timbul rasa yang berbeda di hati Mala kepada Ust Raihan.
* * *
Gelap berganti terang. Matahari berganti bulan. Adzan Ashar telah dikumandangkan, setelah selesai menunaikan ibadah Ashar, Ust Raihan dan Ust Fajar ditemani Mala langsung bersiap-siap untuk mengajar TPA di Masjid Al-Muttaqin.
Sesampainya disana mereka langsung disambut gembira oleh para santri TPA karena mereka tahu akan mendapatkan dua guru baru. Di tengah-tengah Ust Raihan sedang mengajar, terdengar suara memanggil namanya dari belakang.
“Assalamu’alaikum wr. wb.” Sapa Aisyah lembut.
“Wa’alaikum salam wr. wb.” Jawab Ust Raihan pelan.
“Kak Raihan juga mengajar TPA disini ya?”
“Ya! Seperti yang ukhti lihat. Ukhti….bukanya Aisyah sahabatnya Mala kan?”
“Iya kak! Kakak benar, kak aku boleh minta nomer hpnya tidak?”
“Untuk apa?”
“Ya kalo aku kesulitan tentang agama kan bisa lansung tanya kak Raihan.”
“Hm…gitu, ya sudah ini, tapi jangan di ganggu dan guna-guna ya!” terang Ust Raihan sambil memberikan selembar kertas bertuliskan nomer hpnya.
Setelah perbincangan itu, kini Aisyah semakin dekat dengan Ust Raihan. Aisyah selalu mencari-cari alasan agar dapat berbincang-bicang masalah agama atau masalah-masalah pribadi dengan Ust Raihan.
Setelah sekian hari, akhirnya Mala pun tahu tentang hal ini. Rasa cemburu yang dulunya masih sebiji dzarrah kini telah tumbuh menjadi tunas. Akan tetapi Mala masih takut untuk mengungkapkan perasaannya kepasa Ust Raihan.
* * *
Hingga suatu hari, ketika Mala sedang membersihkan kamar Ust Raihan, Mala menemukan tiga surat yang berwarna merah jambu. Dia baca semua surat itu, dia sadar bahwa surat tiga lembar itu adalah surat ungkapan perasaan hati seorang perempuan kepada Ust Raihan. Seorang gadis yang dekat dengannya dan dengan Ust Raihan, gadis yang menjadi sahabatnya sejak kecil. Yah Aisyah. Aisyahlah yang telah meminta balasan kepada Ust Raihan atas perasaannya. Kini hati Mala bagai di injak-injak, terasa di cobek-cobek bagaikan kertas yang tak berguna. Namun Mala tetap mencoba menabahkan hatinya. Mala mencoba menata hatinya kembali. Dia mencoba menerima takdir Ilahi, menahan air matanya jangan sampai air matanya terjatuh mengakir di pipinya. Malapun meletakkan kembali surat-surat itu di tempatnya semula dan pelan-pelan keluar dari kamar. Akan tetapi, tanda Mala sadari Ust Fajar menyaksikan kejadian itu semuanya.
* * *
Matahari bersinar begitu tariknya, tanpa mempunyai belas kasihan kepada makhluk bumi yang sedang menunaikan ibadah menahan rasa lapar dan dahaga. Ust Raihan dan Ust Fajar baru saja selesai mengajar di MAN Kiyaran. Tidak terasa waktu mereka untuk bertamatak di Kiyaran tinggal hitungan jari tangan kanan saja. Siang itu Ust Raihan telah berniat untuk memberikan surat balasan kepada Aisyah. Ketika dia hendak keluar rumah, kejadian yang tidak diinginkan akan terjadi, kejadian yang hanya akan membuat kepedihan hati, kejadian yang hanya akan menyengsarakan jiwa akan terjadi. Ust Raihan mendapati Mala sedang duduk santai di teras rumahnya sambil membaca buku.
“Loh kak! Mau kemana?” tanya Mala sedikit heran.
“Oh! Ini, kakak mau mmeberikan surat balasan ke Aisyah, kasihan! Suratnya dari kemaren belum kakak balas.” Jawab Ust Raihan lugu.
Mendengar itu sekejap bumi yang tenang terasa bergoncang dasyat bagi Mala. Hati yang tenang terasa seperti diremuk-remuk tak tersisa. Hatinya kini terasa sakit, sakit seperti dibelah oleh beribu pisau dan ditancapkan semua pisau itu dihatinya.
“Ya sudah kak, aku mau ke kamar dulu.” Tutur Mala dengan terbata-bata dan bibir yang bergetar. Sambil menjatuhkan bukunya di lantai, dia bergegas lari menuju kamar meninggalkan Ust Raihan sendiri dengan kebingungannya.
“Ya silahkan!” loch kok aneh ya si Mala, ada apa dengan dia, ujar Ust Raihan di dalam hati dengan kebingungan yang merasuki pikirannya.
Sampai di kamar, Mala kunci pintu kamarnya rapat-rapat, lalu di lemparkan tubuhnya di atas kasur, karena di sudah tidak kuat lagi menahan perasaan yang merombak hatinya. Mala menangis sejadi-jadinya. Hati yang sakit tidak dapat dia tahan lagi, janjinya akan tangis yang telah terucap kini terpecah oleh air mata kepedihan yang memberontak matanya. Dia lampiaskan semua amarahnya diatas teman satu-satunya yang dapat menampung tangisannya menurut Mala. Padahal masih ada Allah SWT sebagai tempat bersimpuh untuk umat-Nya atas pengaduan dan masalah darinya. Akan tetapi bagi Mala seperti tak layak lagi baginya untuk hidup di bumi ini.
* * *
Setelah kejadian itu Mala tidak mau menampakkan wujudnya. Dia mengurung dirinya di dalam kamar. Sudah dua hari Mala tidak makan dan minum serta tidak mau diajak bicara, bahkan pintu kamarnya masih terkunci rapat, ibunda dan ayahnya pun tidak berhasil untuk membujuk Mala untuk keluar dari kamarnya.
Akhirnya Ust Fajar menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu ketika Mala membersihkan kamar milik Ust Raihan, bahkan Mala telah membaca surat cinta Aisyah kepada Ust Raihan dan setelag Ust Fajar cek ke kamar Mala, Ust Fajar menemukan diary milik Mala, dari diary itu Ust Fajar tahu bahwa sebenarnya Mala juga suka kepada Ust Raihan tetapi tidak tidak berani mengungkapkannya.
Ust Raihanpun juga menceritakan kejadian tiga hari yang lalu sebelum dia mengantar surat balasan kepada Aisyah, Mala sempat bertanya dan Ust Raihan pun menjawab bahwa dia akan pergi ke rumah Aisyah untuk memberikan surat balasan kepadanya. Setelah itu Mala terlihat aneh dan pergi meninggalkannya. Dan kini Ust Raihan mengerti bahwa selain Aisyah ada orang lain yang mencintai dirinya, menyukai dirinya, rupanya Mala telah memendam perasaannya jauh hari sejak sebelum SDR.
* * *
Di hari terakhir Ust Raihan dan Ust Fajar berada di Kiyaran, Mala masih tetap mengurung dirinya di dalam kamar.
“Mala….! Mala ….! Apa kamu tidak mau menemui Ust Raihan dan Ust Fajar sebelum mereka kembali ke Demak?” tutur ayah Mala dari balik pintu.
“Mala! Anakku sayang, apa kamu tega nak, tidak menemui mereja dihari terakhirnya ini?” terang ibunda Mala menambahi.
Akan tetapi tetap tidak ada suara balasan dari Mala dari dalam kamar. Akhirnya mereka memaksa untuk mendobrak paksa pintu kamar Mala. Dilihatnya Mala masih dalam posisi tengkurap di ats kasur dan masih terisak-isak oleh tangisnya.
“Mala, ini kak Raihan, kak Raihan ingin ngomong sama Mala masalah kita berdua, masalah Mala dan kak Raihan, tapi Mala bangun dulu ya….! Mala duduk dulu ya….!”
Akhirnya setelah dibujuk-bujuk oleh Ust Raihan, Mala mau bangun dan duduk di atas kasurnya. Tetapi Mala belum mau mengangkat kepalanya dan masih menundukkan kepalanya.
“Mala! Kakak ingin tanya sama Mala, tapi Mala jawab yang jujur kepada kakak ya! Mala mau kan?”
Mala hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
“Mala! Apakah Mala suka sama kaka?” apakah Mala cinta sama kakak?”
Setelah mendengar perkataan itu, air mata Mala mengalir kembali, tak terasa satu, dua tetes air mata telah mengalir di pipinya yang manis dari kedua matanya yang lembab.
“Kakak sudah tahukan, kenapa kakak tanyakan ke Mala lagi?” jawab Mala sambil sesenggukan. Kahirnya Mala mau menganggat suara.
“Mala! Apakah Mala cemburu dengan Aisyah? Apakah Mala mengira kakak menerima cintanya?”
Mala kembali hanya menganggukkan kepalanya tapi air matanya kini mengalir semakin deras.
“Baik kalo begitu, mala…! Mala itu salah paham, kakak tidak pernah menerima ataupun menolak cinta Aisyah, kakak hanya katakan dalam surat itu, bila takdir memang mempertemukan kita berdua untuk berjodoh, maka kakak harap dapat menjalin hubungan yang lebih serius.”
“Jadi kakak tidak pernah menerima cinta Aisyah?” tanya Mala serius seketika itu pula air mata Mala berhenti mengalir dan Mala mengangkat kepalanya.
“Ya! Begitu, jadi Mala jangan salah paham dulu!”
“Tapi…..bagaimana dengan jawaban untukku?”
“Mala! Kakak tahu kalo Mala sayang sama kakak, tetapi cinta itu tidak harus memiliki. Kakak jujur dari hati, kakak tidak berani menerima cintamu dan tidak berani menolaknya, karena takdir Ilahi ditulis di Lauhil Mahfudz, jadi setiapinsan telah diciptakan berpasang-pasangan. Dan jika kak Raihan dan Mala ditakdirkan untuk bersama Insya Allah kakak dan Mala dapat menjalin hubungan yang lebih serius dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Tetapi apabila kita tidak ditakdirkan bersama, Insya Allah! Allah telah memilihkan yang terbaik bagi kita. Mala bisa mengertikan?” terang Ust Raihan panjang lebar.
“Iya kak! Aku ngerti, terima kasih ya kak! Kak Raihan setidaknya pernah mengisi hatiku.”
“Ya, sudah kalo gitu! Ini sudah saatnya kakak pamitan untuk pulang ke Demak, sudah genap kaka Raihan dan kak Fajar membina ilmu disini. Tadi kita sudah pamitan sama semuanya, hanya kurang satu orang, yaitu dek Mala. Pesan kakak terakhir, tingkatkan prestasimu dan jadilah sahabat terbaik untuk Aisyah, serta jadikanlah Aisyah sahabat terbaik untukmu. Ya sudah kakak mau pamit dulu. Wassalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam wr wb!” aits kak tunggu dulu, itu di pipi kakak ada sesuatu?” goda Mala.
“Ada apaan? Nggak ada apa-apa.” Jawab Ust Raihan sambil mengelus-elus pipinya.
“Itu ada……emmmuah………!!!”

“Faja’ala minhuz zaujainidz dzakara wal untsa.”